Love Sick

Tinggalkan komentar

I’m walking, through streets that are dead
Walking, /walking with you in my head
My feet are so tired /My brain is so wired…. love sick- Bob Dylan

20 km per jam kau mengayuh sepedaku di aspal penuh debu dan bercak-bercak tikus yang terlindas itu. Udara memanas dalam kantong paru-paru. Serasa sesak. 25 km per jam, jalan mendaki dan pada saat itu kau akan merasakan paru-paru panas, terbakar. Ada banyak hal berkecamuk di kepalamu, ada banyak hal bersahut-sahutan, saling berlomba-lomba seperti perlombaanmu dengan aspal jalan itu.

18 km, 15 km, kau mulai mengatur nafasmu yang tersengal-sengal. Keringat yang meleleh dan matahari meninggi hampir di atas kepalamu. Pada saat itu kepalamu tetap berkecamuk pada ingatan tentang dia.

one day in your life

Tinggalkan komentar

you’ll remember a place/Someone’s touching your face/You’ll come back and you’ll look around you…..Michael jackson

Kaupun menceritakan padaku tentang warna warni aura pada sebuah perjamuan makan sore hari itu. Kau pandang jendela yang terbuka, pada pohon asam, bangunan, pelataran dengan tanah berdebu dan batu-batu, kau bilang semua memiliki aura. Pohon itu punya aura, bahkan batu itu punya aura.

“Kenapa kau bisa tahu perempuan itu hamil?”, tanyaku masih heran ingatanku tentang kejadian beberapa saat lampau ketika ia tengah berpapasan dengan seorang perempuan, dan perempuan itu memang mengiyakan kehamilannya yang jalan 5 bulan.

Aura perempuan itu abu-abu, katamu. Abu-abu karena ia tengah mempertaruhkan separuh nyawanya pada bayi yang dikandungnya.

Apa aura pohon dan batu-batu, tanyaku padamu, masih menyimpan keherananku tentang aura. Bahkan kini aku menjadi kikuk sendiri dihadapan dia–Jangan-jangan ia tengah menangkap warna auraku.

Hmm, katamu. menhela nafas. “Saat kau menendang batu-batu itu, maka aura batu itu akan nampak menjadi hitam dari sebelumnya yang berwarna-warni. Aku bicara soal warna dominan. aura warna yang dominan. Pohon itu juga berwarna-warni, tapi kadangkala saat seseorang tengah menjamahnya, atau angin, atau kupu-kupu, perubahan warna menjadi menakjubkan. Manusia yang memberlakukan pohon itu dengan buruk, aura pohon itu akan berubah dominan menjadi hitam. Kau, manusia, punya aura yang bermacam-macam tergantung emosi dan apa yang tengah dipikirkannya. Saat kau berfikir keras, akan muncul aura hijau, tetapi saat kau sakit menjadi abu-abu, lalu saat kau berfikir tentang romantisme, cinta, seksualitas, maka yang muncul kadang merah, kadang mendekati jingga.

Aku hanya diam. turut memandang ke jendela, pada bangunan tua, batu-batu, pelataran dengan tanah berdebu dan langit sedikit mendung dan suara lantang kendaraan yang bergerak di aspal depan tempat perjamuan kami ini. Tak ada yang perlu ku pikirkan saat itu, hanya aku teringat sesuatu….

Ibuku meninggal saat aku SMP. Beberapa hari sebelum ibuku meninggal, kulihat wajah ibuku seperti berseri. Dalam pembaringannya di kasur rumah sakit yang berwarna putih dan korden-korden yang berwarna putih, aroma obat, tembok-tembok putih, kulihat wajah ibuku seperti 10 tahun lebih muda. Aku tak tahu apa warna aura, tetapi wajah yang berseri, lebih cantik dan nampak muda itu terekam benar dalam benakku sampai kini.

One day in your life/ someone touching your face/ you’ll come back and look around you…

Lazy

Tinggalkan komentar

From the flats and the maisonettes
they’re reminding us there’s things to be done.
But you and me, all we want to be is lazy,
you and me, so lazy…  –>suede

Maka kaupun mengangguk setuju tanda permufakatanmu bahwa hari ini kau merasa malas benar. Kau merasakan di udara kota Yog cuaca yang panas dan kau membayangkan tengah duduk-duduk di bawah pohon jambu.

“Hmm, sungguh nyaman sambil menyeruput segelas jus alpukat dingin dengan taburan coklat” tak terasa air liurmu meleleh.

Ini adalah jam 2.33, sudah hampir tiba waktu senja, dimana pada hari ini kau merasa akan ada banyak hal menghadangmu, hari yang sibuk.

just like heaven

Tinggalkan komentar

You /Soft and only/Lost and lonely

Strange as angels /Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water /You’re just like a dream … the cure-just like heaven

Akhirnya kau mesti menyerah, pergi meninggalkanku setelah dokter mengoperasi Jantungmu! Dua kaki patah sudah berhasil diselamatkan, tetapi bagaimana dengan dua ginjal dan jantungmu yang nyaris hancur itu? Kau tak nampak pucat pada menit terakhir sebelum ajal menjemputmu. Pun aku tak menguasai pertanda pada ruangan itu: Ruangan kotak persegi dengan dinding putih, bilik-bilik berpenyekat kain putih, perawat-perawat berbaju putih, bunyi nafas tersenggal pada jalur-jalur selang oksigen, tabung-tabung, aroma infus, percakapan yang ditekan dan dirimu yang mencoba tersenyum.

“Ini sudah seperti surga, kawan” katamu pada sebuah buku yang kau tulis. Pada buku itu adalah amsal dirimu sendiri. Seorang diri pada sebuah pantai, pasir-pasir yang bergerak pelan, aroma garam, senja yang hampir tenggelam, camar camar yang bergerak ngungun, nyiur kelapa dan kedua tanganmu yang bersedeku seakan-akan kau adalah bagian dari ketenangan pantai itu.

Selamat jalan kawan, ke duniamu

Streets of Philadelphia

Tinggalkan komentar

I walked the avenue, ’til my legs felt like stone/ I heard the voices of friends/vanished and gone/ At night I could hear the blood in my veins/Black and whispering as the rain/On the Streets of Philadelphia

Ain’t no angel gonna greet me/ It’s just you and I my friend/ My clothes don’t fit me no more/ I walked a thousand miles/ Just to slip this skin ,

Bruce springteens

Ya, kubiarkan kedua kakiku merambah trotoir ini, seiring cahaya lampu dan sleretan-sleretan cahaya kendaraan yang lalu lalang? Dimanakah aku berada kini selain menempuh  lorong pikiranku sendiri?

Kehidupan bergerak pada jalan yang kulalui itu. Pedagang kaki lima, warung pecel lele, warung soto, orang-orang yang makan sambil bercakap-cakap tentang  perang, krisis ekonomi, pemilu yang mendekat, kekasih yang selingkuh dan chwa…cwa..cwa…, semua menderu bersama desing dinamo, roda-roda yang bergerak dan klakson motor yang tak sabar menelikung ke kiri di sebuah perempatan yang dipenuhi centang perentang billboard.

Hey, tersenyumkah kau padaku gadis manis bemata bulat dengan rambut hitam dan aroma metropolis?–sebuah billboard iklan notebook menggantung  persis di perempatan.

Tak berapa lama kedua kakiku mulai terbiasa merambah trotoir ini, tak berapa lama pula tanganku melenggang dengan enteng tanpa menenteng sebilah rokok yang menyala. Hari ini ngirit benar, pikirku. Tak merokok dan aku cukup menikmati kota dengan hirupan asap knalpot, wajah pengemudi bis yang lelah dan perempuan-perempuan dengan rambut berterbangan keluar dari sebuah mall. Perempuan-perempuan dengan pakaian perlente, blues, mini pants, hak tinggi, lipstik merona, eye shadow dan parfum yang menyengat bercampur dengan  keringat seharian penuh, adalah para penjaga toko. Seperti manekin di etalase, harus tersenyum, mengerdipkan mata, kalau perlu bibir yang merah basah bagai “Maukah kau beli bibirmu dengan isi dompetmu?” Tidak kataku. karena toh, aku tak punya dompet berisi uang, selain setumpuk kartu nama, KTP lusuh, Bon slip gaji dan sederet buku telepon. Yah… aku hidup dari jejaring buku telepon dan nama-nama itu.

Karena perempuan-perempuan etalase itu sudah keluar, jam dalam diriku memperingatkan ini sudah lepas 10 malam. Aku lebih percaya pada jam alami seperti itu. Kusebut ‘jam alami’ yang aku temukan di sekitarku: kokok ayam jantan muasal subuh sudah dekat, ibu-ibu pengemudi sepeda berangkat ke pasar pertanda  pagi belum jam 7 benar, anak-anak sekolah, perempuan-perempuan etalase, dan sebagainya.

Sudah lepas 10 berarti, dan kedua kakiku kaku serupa batu. Pada jalan yang membelah kotaku itu, malam itu, cahaya lampu-lampu, dan ingatan tentang kedua biji matamu yang indah, aku meluncur pulang.

selamat malam dunia

Somewhere over the rainbow

Tinggalkan komentar

Someday I’ll wish upon a star, Wake up where the clouds are far behind me/ Where trouble melts like lemon drops/High above the chimney top that’s where you’ll find me/ Oh, Somewhere over the rainbow way up high/And the dream that you dare to, why, oh why can’t I? I hiii ?… Israeli Kamakawi

Maka kamipun bermimpi tentang mimpi yang sama. Pada kedalaman dua buah bola matamu yang besar, bening, aku bisa melihat mimpimu; tentang anak-anak yang berlarian lincah di pematang bukit, diantara kelopak-kelopak bunga yang terbuka, burung-burung yang meluncur turun pada ngarai dan capung-capung yang melayang dengan manuver-manuver lincah.

Pada kedalaman kelopak matamu yang lain, akupun bermimpi yang sama; anak-anak yang berlarian lincah di lorong-lorong kota, pada pematang trotoir, bilboard dengan perempuan tersenyum, lampu-lampu flip-flop warna-warni, klakson dan spion yang menampilkan keriangan orang-orang di belakang kemudimu. 

Karenannya kita masih bermimpi saban hari. Saat kaututup pintu dan kututup pintu, saat kau selehkan sepasang sandalmu dan sepasang sandalku, pada ranjang yang berbeda, maka kitapun melanjutkan mimpi kita.

Kau bilang, seperti juga kubilang, kita memilih melanjutkan hidup kita karena kita sama-sama punya mimpi

The Inner Light

Tinggalkan komentar

Without going out of your door /You can know all things of earth/ With out looking out of your window /You could know the ways of heaven – The Beatles  

 

“Kenapa kamu ngendon disini?”, katamu di sebuah perbincangan di sore yang rembang di sebuah kebun di belakang rumah, sebuah meja lebar, aroma kopi, bangku panjang, suara angin yang mendesah pelan, gesekan daun dan seekor tokek yang mengetuk-ketuk dengan tenangnya.

 

“Tok…. kek…” aku menunggu suara tokek itu sampai selesai, tapi sepertinya binatang melata yang menempel dan menghuni plafon bak mandi di rumah itu tak akan berhenti sampai disitu.

 

Sepertinya tokek itu tahu bahwa diriku tengah berfikir untuk menemukan jawaban paling pas dan binatang melata yang menempel pada plafon bak mandi yang setiap pagi menyisahkan setumpuk kotoran di pojok kamar mandi itu tengah memberikanku ketukan waktu! Waktu dan perhitungan, antara ya dan tidak! Tetapi saat ini aku tidak tengah mencari jawaban ya dan tidak, tetapi sebuah alasan. Sebuah alasan yang panjang yang setidaknya bisa dimengerti oleh percakapan di sebuah kebun di belakang rumah itu. 

 

“Tok… kek… tok… kek…” Akhinya berangsur suara binatang itu lenyap. Dan yang pasti hanya untuk sesaat.  Selebihnya aku harus mengisi perbincangan di belakang kebun itu kembali. Alih-alih membicarakan soal tokek? Hmm, tapi aku sudah setidaknya mengulangi perbincangan tentang tokek lebih dari 2 kali. Dan ia masih saja tertawa.

 

“Kenapa tokek itu ngendon di kamar mandi itu?” Kataku, memulai lagi perbincangan soal tokek untuk kesekian kali.

 

Ya, mungkin ia betah disana katamu. Mungkin pula memang seseorang sengaja membiarkannya di sana, toh tak ada yang berani membunuh tokek itu. Mungkin pula seseorang pernah mencoba mengusir tokek itu, tetapi tokek yang sama atau tokek yang lain datang lagi ke tempat yang sama. Tak ada yang tau pasti bagaimana tokek itu memilih tempat itu, mengapa tidak memilih pojok plafon yang lain? Mengapa harus kamar mandi yang pengap dengan sedikit cahaya? Apakah Tokek itu suka melihat tubuh-tubuh manusia yang telanjang, bugil bulat? Akupun mulai menjawab dengan asal pertanyaanmu. Aku ngendon disini karena aku suka pada kotak kehidupanku yang pengap ini. Bagiku tidak pergi kemanapun bukan berarti aku tidak pergi kemana-mana. Aku mendengar orang-orang dari luar kota datang, berkunjung dan bercerita tentang kotak-kotak kehidupan yang lain, kota-kota yang lain, ladang-ladang, kebun-kebun, sunga-sungai, luas-luas lautan, gurun-gurun, gua-gua dan perang! Mengapa perang masih saja terjadi?

 

Yah, cukuplah bagiku untuk saat ini, menjadi tokek yang ngendon di tempat ini, mendengarkan orang-orang mampir di kamar mandi itu, bertelanjang bulat, bersiul-siul dan kadang-kadang melakukan sesuatu yang mereka pikir bahwa tak ada seseorang pun yang melihatnya. Hahahhahahaaa….  

 

Ya, di ruangan ini, tanpa perlu melompati bingkai  jendela, tanpa perlu melangkah keluar melewati daun pintu, kita bisa menuju kesana.

radiohead

Tinggalkan komentar

Indoor Fireworks

1 Komentar

We play these parlour games/ We play at make believe/ When we get to the part where I say that I’m going to leave/ Everybody loves a happy ending but we don’t even try/ We go straight past pretending/ To the part where everybody loves to cry….Indoor fireworks-Elvis Costello

Teleponku berdering, tapi awas jangan diangkat. Kau yang pernah dengan sengaja diam-diam membuka phonebook ku, membuka kotak masuk dan panggilan terakhir padaku. Betapa curiganya kau padaku? Dua buah bulir matamu, hitam bulat, berkaca-kaca dibalik lensa kacamata?

Kita tengah duduk di kursi masing-masing, tidak berlapis beledru, tidak di sebuah lobby dengan diorama kota, orang-orang yang bergegas, supir truk sampah, ibu-ibu pengayuh sepeda yang kau bilang terlalu eksotik untuk dinyatakan sebagai kehidupan nyata di tengah ruang kota yang hiruk pikuk, pengendara-pengendara motor dan pejalan kaki yang melangkah secepat mungkin menghindari seseorang yang melintas mengenali.

Di tahun yang sama, pada jam yang berdentang 8 kali, pada cuaca teduh sehabis hujan, pada trotori yang langket oleh aroma jejak jejak sepatu, kita bercengkrama tentang sebuah harapan di tahun yang akan datang.

“Bah, aku bosan tak ada pasti”, katamu

Baiklah, kita pulang saja dan membatalkan semua rencana

Spirit on the water

Tinggalkan komentar

Spirit on the water /Darkness on the face of the deep /I keep thinking about you baby /I can’t hardly sleep // bob dylan

Air muka air kolam jiwa adalah air mukaku, disitu ada aku. Ribuan ikan yang bergerak dengan lincah. pagi yang merayap pada pucuk-pucuk pohon, dan seekor katak yang meloncat pada ujung batu…. “clup”

Ketenangan disini seperti membekas bertahun-tahun, menyelimuti tiap sudut seperti lumut-lumut di dinding kolam itu yang menempel, menumpuk lambat laun menjadi beludru hijau.

Kadangkala sebuah daun tua gugur, satu duaa…. “thesss” jatuh pada raut muka tenang air kolam itu, lalu membentuk lingkaran-lingkaran gelombang yang berpendar sampai menjauh dan mengecil dan sirna di dinding-dnding kolam yang penuh lumut seperti beludru.

Tumpukan batu seperti pertapa dengan ketenangannya yang dasyat, tak bergeming puluhan tahun. Siapa sangka batu seperti pertapa itu dulunya adalah seorang laki-laki yang durhaka dengan ibunya dan dikutuk menjadi batu?

Aku, air kolam jiwaku, kadangkala ribuan ikan yang bergerak dengan lincahnya, berkilat-kilat pada kelopak cahaya pagi itu berubah menjadi keruh, kecoklatan dan tak nampak sampai kedasarnya ketika air koka m jwaku tiba tiba dibanjiri oleh gelontoran air sungai yang berwarna kecoklatan. Lumpur!

Jauh di sana, dari air kolam yang tenang itu banjir telah membawa lumpur yang kecoklatan, kadang gelap, kental seperti coklat. Pada saat seperti itu ribuan ikan yang bergerak lincah, binal dan berloncat-loncatan itu memilih sembunyi di dasar-dasar batu.

Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan saat ini? dirimukah? karena tetap saja pada air kolam yang bergelak kecoklatan itu masih tetap terbaca bayangan dirimu.Kurang ajar!

Older Entries